Sedikit label psikiatri yang membawa begitu banyak sindiran terpendam. Gangguan kepribadian histrionik menggambarkan cara mencari perhatian yang bertahan lama, disertai ekspresi emosi yang kuat, terlihat jelas, dan cepat berganti nada. Label itu tidak mengatakan apa pun tentang ketulusan perasaan yang dialami, tidak meramalkan perselingkuhan maupun kedangkalan, dan merupakan salah satu kategori yang paling banyak dikritik dalam manual yang melahirkannya.
Apa yang tercakup dalam diagnosis ini
Gangguan kepribadian tidak menggambarkan sebuah episode, melainkan sebuah cara berfungsi yang bertahan lama: cara merasa, cara memandang diri, dan cara menjalin hubungan yang muncul kembali dalam berbagai konteks, sudah terbentuk sejak akhir masa remaja atau awal masa dewasa, dan terkait dengan penderitaan nyata atau kesulitan nyata. Karena itu, temperamen yang ekspansif atau satu periode ketika seseorang banyak mengambil ruang saja belum cukup.
Dalam DSM-5, histrionik termasuk klaster B, kelompok kepribadian yang digambarkan emosional dan berubah-ubah, bersama kepribadian ambang, narsistik, dan antisosial. Ciri-ciri yang dipakai berkisar pada beberapa poros: merasa tidak nyaman ketika bukan pusat perhatian, emosi yang diungkapkan kuat tetapi cepat berpindah, penggunaan penampilan untuk menarik pandangan, tutur kata yang penuh gambaran dan miskin rincian, sugestibilitas yang menonjol, serta hubungan yang dirasakan lebih akrab daripada yang sebenarnya. Dibutuhkan beberapa ciri sekaligus, tidak pernah hanya satu, dan ciri-ciri itu harus menimbulkan ongkos bagi orang tersebut.
Frekuensinya pada populasi umum diperkirakan rendah, dengan selisih besar tergantung alat survei yang dipakai.
Bagaimana hal ini muncul
Dalam keseharian, ini bukan pertunjukan seorang aktor, melainkan yang paling sering adalah kepekaan yang sangat tinggi terhadap tanggapan orang lain. Pandangan yang berpaling, pesan yang tidak dibalas, obrolan kelompok ketika tidak ada yang menyambung ucapan kita: sinyal-sinyal kecil itu terasa berat dan dengan cepat dibaca sebagai hilangnya minat.
Ekspresi emosi tampak hidup dan terbaca dari jauh, tetapi ia berpindah cepat, sehingga orang di sekitar merasa seolah latar panggung diganti di balik layar. Sugestibilitas bekerja ke arah yang sama: pendapat dan antusiasme mengambil warna orang yang ada di hadapannya, apalagi jika orang itu mengesankan.
Kedekatan pun sering ditaksir terlalu dini: sebuah pertemuan yang hangat dialami sebagai awal persahabatan yang dalam, sementara pihak lain masih berada di taraf sopan santun. Selisih itu dibayar dengan kekecewaan, dan sama sekali tidak ada perhitungan di dalamnya.
Kategori yang diperdebatkan, dan bayang-bayang kata histeria
Kategori ini adalah turunan dari histeria yang lama, kata yang dibentuk dari istilah Yunani untuk rahim dan lama dipakai untuk menggolongkan perempuan yang dianggap terlalu emosional. Manual Amerika mengubah nama "kepribadian histerik" menjadi "histrionik" pada tahun 1980, tetapi penggantian nama itu tidak menghapus penyortiran yang menyertainya.
Akibatnya terdokumentasi: diagnosis ini jauh lebih sering ditegakkan pada perempuan dalam praktik klinis, sementara survei populasi umum yang memakai wawancara terstruktur menemukan angka yang jauh lebih berdekatan antara kedua jenis kelamin. Jadi sebagian dari selisih itu berasal dari cara pasien perempuan dipandang, bukan dari apa yang mereka alami.
Kritiknya melangkah lebih jauh. ICD-11, klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia, menghapus tipe-tipe kepribadian yang terpisah dan menggantinya dengan penilaian berdasarkan derajat keparahan dan berdasarkan trait: histrionik tidak lagi tercantum di sana sebagai kategori. Model alternatif yang diusulkan dalam lampiran DSM-5 juga tidak mempertahankannya. Ini berarti sebagian klinisi menganggap label tersebut berbatas kabur dan kurang berguna.
Tiga anggapan keliru yang melekat pada label ini
Mengungkapkan dengan kuat bukan berarti merasakan secara palsu. Intensitas ungkapan dan ketulusan yang dirasakan adalah dua dimensi yang berbeda: seseorang bisa sangat ekspresif sekaligus sepenuhnya tulus. Yang membingungkan orang terdekat adalah kecepatan pergantian nada, bukan nyata atau tidaknya kelekatan itu.
Diagnosis ini tidak meramalkan perselingkuhan maupun manipulasi. Mencari pandangan orang lain bukanlah berusaha menipu mereka. Kaitan yang secara refleks dibuat antara pesona dan kepalsuan adalah prasangka moral, bukan kriteria klinis: kaitan itu mengubah setiap gestur hangat menjadi siasat yang dicurigai.
"Dangkal" menggambarkan sebuah bentuk, bukan sebuah kedalaman. Tutur kata yang penuh gambaran dan miskin rincian mengatakan sesuatu tentang gaya bercerita, bukan tentang nilai ikatan seseorang maupun kecerdasannya.
Batas yang kabur, penilaian, dan pendampingan
Di situlah kesulitan utamanya: garis batasnya sulit dibedakan dari kepribadian ambang, tempat ketidakstabilan citra diri, ketakutan ditinggalkan, dan perilaku melukai diri lebih menonjol, serta dari kepribadian narsistik, tempat perhatian yang dicari tertuju pada kekaguman atas suatu keunggulan, bukan pada ikatan itu sendiri. Tumpang tindihnya sedemikian besar sehingga beberapa diagnosis sering ditegakkan bersamaan.
Ada penjelasan lain yang layak disingkirkan sebelum menyimpulkan: fase hipomania, yang bersifat episodik dan tidak menetap, cara berfungsi yang terkait ADHD, dampak trauma, atau sekadar norma budaya dan keluarga tentang ekspresivitas yang berbeda dari norma si penilai. Penilaian yang serius bersandar pada riwayat panjang dan tidak diputuskan dalam satu kali konsultasi.
Tidak ada obat yang menyasar gangguan ini sebagai gangguan tersendiri. Pendampingan bertumpu pada psikoterapi: toleransi terhadap tidak adanya tanggapan, regulasi emosi, pembacaan hubungan. Penelitian khusus mengenai diagnosis ini masih sedikit, dan menyatakannya lebih jujur daripada menyembunyikannya. Jika penderitaan menjadi berat, tenaga kesehatan jiwa adalah pihak yang tepat untuk dihubungi.
... dan kehidupan asmara
Yang menguji sebuah hubungan hampir tidak pernah sisi spektakulernya, melainkan kebutuhan akan tanda-tanda dan apa yang ditimbulkan oleh ketiadaannya. Diam yang panjang tidak dialami sebagai diam: ia dibaca sebagai penarikan diri.
Dari situ lahir patokan yang paling berguna, dan paling berlawanan dengan naluri bagi seorang pasangan: keterdugaan lebih menenangkan daripada intensitas. Sebuah pesan saat berangkat, jam pulang yang diberitahukan lebih dulu, kelekatan yang diucapkan dengan suara keras alih-alih dianggap sudah pasti. Menarik diri untuk menurunkan ketegangan umumnya menghasilkan efek sebaliknya. Ini bukan soal memberi perhatian tanpa batas, melainkan soal membuat perhatian yang sudah diberikan menjadi terbaca.
Label ini tidak meramalkan apa pun tentang kesetiaan seseorang, maupun tentang kemampuannya mencintai dalam waktu lama. Dua orang yang membawa diagnosis yang sama tidak meminta hal yang sama.
Soal membicarakannya, menjelaskan apa yang benar-benar dialami sering lebih berhasil daripada menyebut kata itu, yang datang dengan muatan berat: saya butuh banyak tanggapan, saya mengungkapkan sesuatu dengan kuat, diam yang panjang membuat saya cepat berpikir tentang penolakan. Mengatakannya lebih awal mencegahnya ditafsirkan sebagai sandiwara yang diperhitungkan. Dan pertanyaannya layak diajukan ke arah sebaliknya juga: bagaimana orang lain itu sendiri lebih suka diajak bicara.