Gangguan Bahasa Perkembangan (DLD) melibatkan kesulitan yang menetap dalam memahami dan/atau menggunakan bahasa lisan, yang memengaruhi keberfungsian sehari-hari dan tidak memiliki penyebab biomedis pembeda yang diketahui. Istilah lama disfasia perkembangan masih dipakai di sebagian bahasa dan layanan. Dalam bahasa Inggris, disfasia juga bisa merujuk pada kesulitan berbahasa yang didapat, jadi konteksnya penting.
Apa itu disfasia?
DLD bermula pada masa perkembangan dan dapat memengaruhi kosakata, tata bahasa, pencarian kata, penyusunan kalimat, wacana, atau pemahaman. Kemampuan membaca, mengeja, dan belajar juga bisa terpengaruh. Gangguan bahasa dapat muncul bersama kondisi lain; dalam kasus itu, rumusan diagnosisnya mungkin menyebut kondisi penyerta tersebut alih-alih memakai istilah DLD saja.
Tidak ada satu penyebab tunggal yang diketahui. Faktor genetik dan perkembangan turut berperan, dan gangguan bahasa bisa ditemukan dalam satu keluarga. DLD tidak menentukan kecerdasan, emosi, atau isi pikiran seseorang, dan tiap orang bisa punya kekuatan serta kebutuhan penyerta yang berbeda.
Berbagai sisi disfasia
Ada dua sisi utama, yang berpadu secara berbeda dari satu orang ke orang lain:
- Ekspresi: menemukan kata, mempelajari kosakata, dan menyusun kalimat atau cerita bisa terasa sulit. Gagasan yang mendasarinya mungkin lebih jernih daripada ucapan yang keluar, tetapi hal itu tidak bisa diandaikan berlaku di setiap situasi.
- Pemahaman: mengikuti instruksi yang panjang, menangkap pertanyaan yang diajukan terlalu cepat, mengurai beberapa informasi sekaligus. Sebagian orang berbicara dengan lancar tetapi kesulitan menyerap semuanya, sebagian lain paham dengan baik tetapi kesulitan mengungkapkannya.
Tidak ada dua profil yang tampak sama. Kesulitan menemukan kata hanyalah salah satu ciri yang mungkin muncul; pada orang lain, pemahaman, tata bahasa, atau wacana bisa jauh lebih menonjol.
Bagaimana disfasia muncul dalam keseharian
Melampaui definisi, DLD dijalani dalam kehidupan nyata:
- Berbicara: mencari-cari sebuah kata, mengganti istilah, atau menyusun kalimat bisa menuntut usaha lebih. Momen serupa juga terjadi karena sebab lain, jadi satu tanda saja bukan berarti DLD.
- Mendengarkan: kebisingan atau ucapan yang cepat bisa mempersulit pemrosesan. Mengulang dengan kalimat lain, memperlambat tempo, atau menambahkan informasi visual mungkin membantu.
- Tempo: percakapan kelompok melelahkan, karena semuanya harus diproses saat itu juga tanpa jeda.
- Kelelahan: berbicara dan memahami sepanjang hari menuntut energi yang tidak pernah terbayangkan kebanyakan orang.
Kesulitan ini berbeda menurut orang, bahasa, konteks, dan tingkat kelelahan. Tambahan waktu untuk memproses, pengulangan dengan kalimat lain, atau dukungan visual bisa membantu bila orang tersebut memang menginginkannya.
Satu contoh
Cameron sejak lama membutuhkan waktu lebih untuk merumuskan jawaban lisan, terutama dalam percakapan kelompok yang berlangsung cepat. Asesmen menemukan kesulitan bahasa ekspresif yang menetap, dan pemahaman juga tetap diperiksa alih-alih diandaikan tidak terpengaruh. Cameron memilih untuk menyiapkan poin-poin penting dan kadang memakai tulisan, sambil menyadari bahwa orang lain dengan DLD bisa saja justru merasa menulis lebih sulit.
Bagaimana disfasia didiagnosis?
Tidak ada tes darah dan tidak ada pemindaian pencitraan yang menegakkan diagnosis. DLD diidentifikasi secara klinis, melalui asesmen wicara dan bahasa yang menyeluruh, sering kali dilengkapi evaluasi multidisiplin. Prosesnya berpijak pada kriteria internasional, terutama DSM-5 dan ICD-11, serta mengikuti beberapa tahap:
- Asesmen wicara dan bahasa: ekspresi dan pemahaman, kosakata, tata bahasa, wacana, serta bunyi ujaran dapat diperiksa dengan alat yang sesuai dengan bahasa dan usia orang tersebut.
- Riwayat perkembangan: kesulitan berbahasa harus sudah ada sejak masa kanak-kanak dan bersifat bertahan, bukan sekadar keterlambatan sesaat.
- Pendengaran, perkembangan, dan konteks: pemeriksa mempertimbangkan pendengaran, paparan bahasa, pendidikan, serta kondisi medis atau perkembangan yang sudah diketahui. Multibahasa tidak menyebabkan DLD, dan semua bahasa yang dikuasai perlu dipertimbangkan dengan layak.
- Sudut pandang multidisiplin: bergantung pada kasusnya, pemeriksaan pendengaran, medis, pendidikan, atau psikologis dapat memperjelas kebutuhan penyerta dan rumusan diagnosisnya.
Perpaduan dari semua unsur inilah, bukan satu tanda tunggal, yang menjadi dasar diagnosis. Asesmen tetap relevan pada masa remaja atau dewasa, meski jalur layanan yang tersedia berbeda-beda.
Disfasia dan cinta
DLD tidak menentukan sedalam apa perasaan seseorang, dan kesulitan menemukan kata dengan sendirinya bukan tanda ketidakpedulian. Meski begitu, DLD tetap dapat memengaruhi saling pengertian. Pasangan bisa memperlambat tempo, memastikan makna tanpa memperlakukan orang lain seperti anak kecil, memakai format lain bila membantu, dan memberi waktu untuk memperbaiki keadaan setelah salah paham.
Atypiklove ingin memudahkan orang menyampaikan preferensi komunikasi seperti itu, tanpa mengandaikan bahwa setiap orang dengan DLD membutuhkan dukungan yang sama.